Perancangan Solar Water Heater
PERANCANGAN SOLAR
WATER HEATER PLAT DATAR DENGAN PIPA ALUMUNIUM
Mahatir Muhammad¹*,
Puji Saksono², Gunawan³
Program
Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri Universitas Balikpapan,
Jalan
Pupuk Raya Kelurahan Damai Balikpapan, Indonesia. Tel dan Fax: (0542)762405,
ABSTRAK
Solar water heater adalah sebuah alat yang memanfaatkan energi dari radiasi matahari yang dikonversikan menjadi sumber
panas. Proses konversi energi yang terjadi pada solar water heater adalah
pengubahan radiasi matahari menjadi panas air yang berpindah melalui
perpindahan konveksi, output yang dihasilkan adalah air panas yang nantinya
akan digunakan untuk mandi. Temperatur yang diharapkan dari solar water heater
ini adalah 44oC agar air panas yang digunakan nantinya memberi
manfaat kepada konsumen yang berupa efek relaxsasi dan mengeluarkan toxin yang
ada didalam tubuh.
Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui cara melakukan dan
menentukan perancangan
serta
efisiensi dari solar water heater.
Penelitian ini
dilaksanakan di Universitas Balikpapam yang terletak di Jalan
Pupuk Raya, Gn. Bahagia,
Balikpapan, Kalimantan Timur. dengan
objek
penelitiannya
adalah solar water heater yang menggunakan
material alumunium pada pipa kolektor. Untuk mengetahui perbandingan perubahan
temperatur dan laju kalor yang terjadi pada penulisan ini maka akan digunakan
variable waktu yaitu,
5
menit,
10
menit, 15 menit dan 20
menit
pada proses pengambilan data.
Dari hasil penelitian
yang dilakukan dapat diketahui bahwa solar water heater dapat bekerja sesuai dengan fungsinya,
dimana hasil outout yang dihasilkan telah berhasil dan melewati
dari target yang telah ditentukan yaitu 44oC. Berdasarkan hasil uji penelitian
proses pemenasan pada solar water heater dan hasil perhitungan yang dilakukan dapat
disimpulkan bahwa variable waktu yang digunakan saat proses penelitian
tidak terlalu berpengaruh pada hasil akhir.
Kata
Kunci
: Solar water heater, Proses perancangan dan Temperatur.
PENDAHULUAN
Perkembangan yang semakin maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi,
khususnya ilmu pengetahuan dan teknologi tentang energi terbarukan. Ada banyak sekali sumber daya
yang bisa di manfaatkan sebagai alternatif dari energi fosil yang tidak dapat di perbaharui dan ketersediannya terbatas di bumi ini. Salah
satunya adalah energi surya (extra terrestrial) yang saat ini banyak digunakan dan dikembangkan untuk keperluan hidup manusia sebagai pembangkit listrik ataupun sebagai sumber pemanas air.
Menurut Piliang, 2018. air panas yang di gunakan untuk mandi menjadi sebuah kebutuhan bagi manusia, mandi dengan air yang bersuhu sekitar 32oC sampai dengan 44oC dapat membuka pori-pori kulit sehingga membantu mengeluarkan toksin dan menghilangkan stress setelah seharian beraktifitas. Mengingat manfaat yang di dapat dari air panas untuk mandi sangat besar maka sudah seharusnya setiap rumah, rumah sakit dan hotel memerlukan fasilitas ini. Salah satu solusi untuk ketersediaan
air panas adalah dengan memanfaatkan energi surya sebagai sumber panas. Prinsip konversi energi matahari yang dimanfaatkan sebagai pemanas air di kenal sebagai solar water heater atau SWH.
Solar water heater adalah alat yang digunakan sebagai pemanas air dengan memanfaatkan radiasi matahari. Komponen utamanya adalah kolektor yang terdiri dari sambungan pipa-pipa jenis penghantar panas dengan kaca sebagai media reflector, didalam kolektor yang telah dirancang ini terjadi perpindahan panas secara radiasi, konduksi dan konveksi. Panas radiasi dari matahari dimanfaatkan sebagai sumber utama panas yang dipindahkan menjadi panas air yang nantinya akan dikonsumsi sebagai air untuk mandi, semua komponen dari solar water heater memiliki fungsi masing-masing yang sangat penting untuk menghasilkan air panas.
Solar water heater adalah alat yang digunakan sebagai pemanas air dengan memanfaatkan radiasi matahari. Komponen utamanya adalah kolektor yang terdiri dari sambungan pipa-pipa jenis penghantar panas dengan kaca sebagai media reflector, didalam kolektor yang telah dirancang ini terjadi perpindahan panas secara radiasi, konduksi dan konveksi. Panas radiasi dari matahari dimanfaatkan sebagai sumber utama panas yang dipindahkan menjadi panas air yang nantinya akan dikonsumsi sebagai air untuk mandi, semua komponen dari solar water heater memiliki fungsi masing-masing yang sangat penting untuk menghasilkan air panas.
Gambar
1. Solar Water Heater
(Budi, 2017)
Menurut Budi, 2017. pemasangan solar water heater akan jauh lebih efisien jika kolektor yang dipasangkan menyesuaikan cahaya matahari dan sudut kemiringan dari kolektor, dimana intensitas cahaya matahari yang diterima akan lebih maksimal. Kejadian tersebut dikarenakan suhu yang didaptkan dari radiasi cahaya matahari diterima secara langsung dan jauh lebih maksimal jika dibandingkan dengan radiasi cahaya matahari jika terhalang oleh awan atau bayangan gedung.
Gambar 2. Konsep Rencana Desain
(Mahatir, 2018)
Konsep desain yang telah dirancang mengadopsi dari perancangan Budi, 2017. Penelitian terdahulu menjadi dasar revrensi yang akan digunakan dalam penulisan tentang perancangan solar water heater ini. Dengan mengadopsi jenis plat kolektor yang akan digunakan dan jenis aliran pipa-pipa yang digunakan, tetapi penulis akan melakukan beberapa perbedaan pada bagian diameter pipa dengan besar 1 inchi, panjang pipa yang digunakan yaitu 6 meter dan jenis material pipanya adalah alumunium. Material alumunium pada pipa kolektor dipilih kerena memiliki daya hantar yang sangat baik dengan harga pasaran yang relatif murah jika dibandingkan dengan material jenis konduktor panas lainnya seperti tembaga dan perak
Gambar
3. Solar Water Heater
(Mahatir, 2018)
Dari
rancangan yang telah dibuat didapatkan solar water heater yang akan diteliti untuk mengetahui temperatur air yang
dihasilkan dan laju perpindahan kalor secara radiasi, konduksi dan konveksi
yang terjadi pada saat proses pemanasan berlangsung.
Menurut
Prijono, 1994. Kalor adalah salah satu bentuk energi yang dapat dimanfaatkan
sebagai sumber pembangkit dan dinyatakan dengan satuan joule, temperatur adalah
besaran yang menyatakan panas dan dingin suatu benda ataupun lingkungan dan
dinyatakan dengan satuan celsius atau kelvin, dimana 1 joule dianggap setara
dengan 0,0005 celsius. Perpindahan kalor adalah fenomena pemindahan energi panas dengan media yaitu saling bersentuhan
secara fisik atau tanpa media perantara karena energi yang dilepaskan dalam
bentuk gelombang elektromagnetik. Perpindahan kalor dibedakan menjadi radiasi
yaitu perpindahan panas tanpa media dan dirumuskan dengan:
q : kalor yang dihantarkan (
J/s atau watt )
e : Emisivitas suatu benda
A : Luas suatu benda yang menerima radiasi
(m)
T : Suhu
mutlak (K)
Perpindahan kalor secara
konduksi adalah perpindahan kalor dengan media atau terjadi karena adanya
setuhan fisik antara permukan benda yang memiliki perbedaan temperatur dan
dirumuskan dengan:
q : kalor yang
dihantarkan ( J/s atau watt )
A : Luas
penampang ( m )
∆T : Perbedaan
suhu panas dan dingin( K )
L : Panjang
penampang ( m )
K :
Konduktivitas termal ( W/m.K-1 )
Sedangkan perpindahan
kalor secara konveksi adalah perpindahan kalor yang terjadi karena adanya
sentuhan fisik antara permukaan seuatu benda dengan fluida atau gas dan dapat
dirumuskan dengan:
q : kalor yang
dihantarkan ( J/s atau watt )
h : Koefisien konveksi ( W/m-1K-1
)
A : Luas penampang ( m )
∆T : Perbedaan
suhu antara dinding pipa dan fluida
( K )
METODE PENELITIAN
Pada penelitian ini dilakukan pengambilan data secara actual dilapangan dengan cara mengamati
perubahan temperatur yang terjadi pada solar
water heater. Pengambilan data akan dilakukan dengan variable waktu 5
menit, 10 menit, 15 menit dan 20 menit dan dilakukan pada lima titik yaitu, input fluida, output fluida, input pipa, output pipa dan plat kolektor,
data-data diambil menggunakan alat bantu digital
infrared thermometer dengan satuan celsius untuk mengetahui temperatur yang
dihasilkan.
Tabel 1. Hubungan Antara
Pengaruh Waktu pada Temperatur
Dari data-data yang telah didaptkan secara actual dapat dilihat seperti pada tabel
1. Dimana temperatur output fluida
yang dihasilkan setelah dipanaskan oleh solar
water heater sebesar 49o C sampai dengan 53o C.
Pengambilan data dilakukan selama empat hari, mulai tanggal 30 Oktober 2018
sampai dengan 02 November 2018 pada siang hari, selama proses pengambilan data terjadi
tercatat bahwa data nomor 6 yang dilakukan pada tanggal 01 November 2019 jam
13:45 tercatat sebagai data tertinggi pada penelitian ini dengan fluida yang
dihasilkan memiliki temperatur sebesar 53o C dan temperatur output pipa sebesar 55o C.
Gamabr 4. Output Fluida
(Mahatir, 2018)
Gambar 5. Output Pipa
(Mahatir, 2018)
Gambar 4
adalah temperatur fluida yang telah dipanaskan dengan solar water heater dan menjadi temperatur tertinggi pada proses
pengambilan data dan gambar 5 adalah temperatur output pipa tertinggi selama proses pengambilan data berlangsung.
Dapat dilihat bahwa temperatur pipa sebagai bejana fluida memiliki perbedaan
termperatur yang kecil dengan fluida yang dihasilkan, hal ini disebabkan karena
kalor yang diserap pipa secara radiasi mengalir ke fluida secara konveksi
sehingga kalor yang dipindahkan tidak terserap seluruhnya.
Gambar 6. Diagram Pengaruh Waktu pada Temperatur
(Mahatir, 2018)
Pada gambar 6 terlihat
bahwa perubahan temperatur yang terjadi selama empat hari, menunjukan perubahan
yang tidak terlalu signifikan dimana data-data tersebut cenderung sama dan
tidak mengelami banyak perubahan. Temperatur output fluida dan output pipa
terlihat stabil pada temperatur 50o C sampai 55o C,
sedangkan temperatur input fluida dan
input pipa cenderung stabil pada
temperatur 30o C samapi 35o C. Data-data tersebut
menunjukan bahwa temperatur dari input menjadi
output mengalami kenaikan tempertur
sebesar 20o C.
Dari hasil pengambilan data secara actual akan diamati perpindahan laju kalor yang terjadi menggunakan
persamaan yang telah ditentukan untuk mengujikan data-data yang telah
dikumpulkan dengan tujuan mengetahui perbandingan antara data laju perpindahn
kalor yang didapatkan secara actual dengan laju perpindahan kalor secara persamaan,
dimana data nomor enam pada tabel 1 sebagai data tertinggi yang akan diujikan:
a. Luas Penampang
b. Perpindahan
Panas Radiasi
c. Perpindahan
Panas Konduksi
d. Perpindahan
Panas Konveksi
Hasil persamaan laju kalor yang telah dilakukan akan
dikonversikan kedalam satuan celsius untuk mengetahui perbedaan yang dimiliki
antara data actual dan data
persamaan. Hal ini dilakukan dengan harapan bahwa hasil korversi yang dilakukan
dapat mengkuatkan atau mematahkan teori-teori yang telah diujikan.
a. Perpindahan
Panas Radiasi
Data actual =
55oC
= 32,16 x 0,0005
= 0,016 oC/s
= 0,960 oC/menit
= 57,60 oC/jam (data persamaan)
b. Perpindahan
Panas Konduksi
Data actual =
33oC
= 20,72 x 0,0005
= 0,0104 oC/s
= 0,624 oC/menit
= 37,44 oC/jam (data persamaan)
c. Perpindahan
Panas Konveksi
Data actual =
53oC
= 30 x 0,0005
= 0,015 oC/s
= 0,900 oC/menit
= 54 oC/jam (data persamaan)
Dari hasil konversi ini dapat dilihat besarnya perbedaan
yang terjadi antara data actual dan
data persamaan. Dimana perbedaan temperatur yang dimiliki perpindahan panas
secara radiasi memiliki perbedaan sebesar 2,60 oC, perbedaan
temperatur perpindahan panas secara konduksi memiliki perbedaan sebesar 4,44 oC
dan perpbedaan temperatur perpindahan panas secara konveksi memiliki perbedaan
sebesar 1 oC. Perbedaan temperatur ini terjadi karena adanya
pengaruh dari faktor eksternal seperti radiasi yang dipancarkan oleh matahari
terhalang awan dan tidak terserap secara maksimal, sudut matahari yang
berpindah dan bayangan-bayangan gedung yang menghalangi proses pemanasan.
SIMPULAN
Dari
pengujian dan pembahan serta analisa yang dilakukan dapat diketahui bahwa solar water heater dapat bekerja dengan
semestinya. Berdasarkan hasil perancangan dan persamaan tentang laju
perpindahan kalor, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Perancangan diawali
dengan melakukan pembuatan gambar desain awal solar water heater menggunakan
software Autocad 2010. Mesin
dirakit secara langsung menggunakan alat dan bahan yang telah ditentukan
menggunakan metode yang telah diadptasi.
2. Digital infrared thermometer digunakan untuk mengetahui temperatur fluida yang dihasilkan oleh solar water heater. Temperatur yang
dihasilkan sangat bergantung pada cuaca karena hanya memanfaatkan radiasi
matahari sebagai sumber energi.
3. Laju perpindahan kalor yang diterima oleh solar water heater dapat diketahui
dengan melakukan persamaan. Dari hasil persamaan hubungan laju kalor dengan
temperatur, memiliki perbedaan yang tidak terlalu jauh, perbedaan hasil
tersebut dapat dipengaruhi oleh radiasi matahari yang terhalang awan, perubahan
sudut matahari setiap jam dan bayang dari gedung tempat pengambilan data.
SARAN
Berikut adalah beberapa saran yang dapat dilakukan untuk
perancangan solar water heater plat
datar dengan pipa alumunium sebagai perbaikan dan penyempurna perancangan ini,
antara lain:
1. Perancangan
ini masih jauh dari sempurna, penelitian yang dilakukan masih sebatas mencari temperatur tertinggi yang dihasilkan dan banyaknya laju
kalor yang diterima. Untuk meningkatkan fungsi dan
penyempurnaan hasil perancangan, skripsi ini masih bisa dikembangkan lebih jauh
lagi dalam hal analisa mengurangi
loses kalor yang terjadi.
2. Untuk
kedepannya, perlu dilakukan pembahasan lebih detail tentang perancangan teknis
dan biaya, terhadap seluruh komponen dari perancangan solar water heater plat
datar dengan pipa alumunium.
3. Beberapa bahan dapat ditingkatkan atau diganti dengan material
lainnya untuk meningkatkan efisiensi dari alat, khususnya material pipa
kolektor dapat diganti menggunakan jenis tembaga yang memiliki nilai
konduktivitas lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
[1]
Anggraini, Ekadewi, Handoyo., 2001, Pengaruh
Jarak Kaca Ke Plat Terhadap Panas Yang Diterima Suatu Kolektor Surya Plat
Datar, Surabaya: Jurnal Teknik Mesin Vol.3 No.2 .
[2]
Budi, Adib, Raharjo., 2017, Rancang Bangun Solar Water
Heater Jenis Plat Datar Dengan Pemograman Arduino UNO, Surakarta: ISSN
2379-725.
[3]
Cengel, Yunus., dan A.Boles,
Michael., 2015, Thermodynamic Engineering
Approach, McGraw-Hill 8th.
[4]
Djamas,
Djusmaini., 1993, Arbsorsi Radiasi Matahari Oleh Permukaan Berwarna, Padang: 154-PT.37.H9-N22.
[5]
Farel, Jufrizal., Napitupulu., dan Himsar, Ambarita.,
2014, Studi Eksperemintal Performansi Solar Water Heater Jenis Kolektor Plat Datar
Dengan Penambahan Thermal Energy Storage, Medan: Jurnal Ilmiah Cylinder Vol. 1 No. 2, October 2014: 27–
36.
[6]
Gere,
James M., Timoshenko, Stephen P., 2000, Mekanika
Bahan, Jakarta: Erlangga Ikhsan, Rizki.,
Sudjito, Soeparman., dan Mega, Nur, Sasongko, 2017, Studi Kinerja Solar Water Heater Double Plat Dengan Aliran Zig-zag
Beralur Belok, Malang: Jurnal Rekayasa Mesin
Vol.8, No.1 ISSN 2477-6041.
[7]
Kreith,
Frank.,
dan Prijono,
Arko.,
1994,
Prinsip-prinsip Perpindahan Panas, Jakarta:
13740.
[8]
Philip,
Jack, Holman.,
2010,
Heat Transfer, New York: ISBN
978–0–07–352936–3.
[9]
Pudjanarso, Astu., dan
Nursuhud, Djati., 2006, Mesin Konversi Energi, Yogyakarta:Andi
Offset.












Komentar
Posting Komentar